Rabu, 11 Januari 2012

PERAN DAN KARYA ROH KUDUS TERHADAP PENGEMBANGAN PRIBADI DAN KUALITAS PENGAJARAN GURU-GURU KRISTEN DI ERA GLOBALISASI

 
Oleh: Ev. Imanuel Adhitya W. Ch., S.E., M.Pd.

Secara umum, dalam era globalisasi saat ini lembaga pendidikan di Indonesia dituntut mampu mengatasi masalah-masalah pendidikan yang berkaitan dengan pengembangan kualitas sumber daya manusia dan sistem pengajaran serta sukses menghadapi tantangan jaman yang semakin berkembang pesat. Adapun masalah-masalah dalam dunia pendidikan yang terjadi di Indonesia saat ini secara makro menurut Prof. Azyumardi Azra adalah (Azra, 2002, hal. xv-xvi) :
Kesempatan mendapat pendidikan masih terbatas (limited capacity), kebijakan pendidikan nasional yang sangat sentralistik dan menekankan uniformitas (keseragaman), pendanaan pendidikan yang belum memadai, akuntabilitas yang berkaitan dengan pengembangan dan pemelilharaan sistem dan kualitas pendidikan yang masih timpang, profesionalisme guru dan tenaga kependidikan yang masih belum memadai, serta relevansi yang masih timpang dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

Sedangkan tantangan jaman yang harus dihadapi adalah bagaimana untuk mampu berkompetisi secara sehat dan menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat, terutama bidang teknologi komunikasi dan sistem informasi. Perubahan tersebut berdampak nyata terhadap sistem pengajaran pada pelbagai lembaga pendidikan formal di Indonesia. Hal ini ditandai dengan pemanfaatan fasilitas internet dan berbagai media audio-visual dalam proses belajar-mengajar di kelas secara formal. Fasilitas-fasilitas tersebut menjanjikan suatu kemudahan dan kenyamanan bagi para praktisi pendidikan (guru dan siswa) dalam mencari referensi materi pembelajaran serta melakukan update informasi mengenai gejala-gejala alam yang terjadi, perkembangan ilmu pengetahuan dan riset-riset dalam bidang pendidikan secara global.
Tanggung jawab sosial di bidang pendidikan dalam konteks di atas bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan lembaga pendidikan sekuler semata, namun juga merupakan bagian tanggung jawab sosial dan moral bagi lembaga pendidikan Kristen di Indonesia. Lembaga Pendidikan Kristen (LPK), dalam hal ini sekolah-sekolah Kristen yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, memandang bahwa keseluruhan tujuan dari pendidikan Kristiani adalah untuk membantu dan membimbing para siswa menjadi murid Kristus yang bertanggung jawab dan hidup dalam kebenaran (Brummelen, 2006, hal. 19).
Prinsip kebenaran Allah nyata dalam karya ciptaan-Nya, termasuk para siswa sebagai manusia yang berharga dan mulia di mata-Nya (Kejadian 1:28, Yesaya 43:4). Manusia dapat mengenal kebenaran tersebut melalui firman Allah (2 Timotius 3:16, Yohanes 1:1), karya keselamatan Allah melalui Yesus Kristus (Yohanes 3:16, Filipi 2:8-11), kelahiran baru (II Korintus 5:17, Kolose 3:10), serta hidup dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus sebagai Roh Kebenaran (Galatia 5:25, Yohanes 14:16-17). Kebenaran-kebenaran tersebut akan berjalan seiring dengan kedewasaan rohani dan pertumbuhan iman Kristen dalam diri orang percaya, khususnya berkaitan dengan pengembangan pribadi dan kualitas pengajaran para guru-guru Kristen dalam mentransfer pengetahuan (knowledge transfer), membangun karakter (character building), dan membimbing para siswa untuk senantiasa hidup sebagai anak-anak terang (Efesus 5:8c), serta secara terus-menerus bertumbuh secara rohani menjadi serupa seperti Kristus (live as a light children and growth to be Christ like). Menjadikan mereka sebagai generasi masa depan yang takut akan Tuhan dan hidup dalam kebenaran yang sejati sehingga dapat menjadi berkat bagi orang lain dimana mereka menjalankan seluruh aktifitas kehidupan sehari-hari (Filipi 2:15).
Menyimak konsep pembelajaran di atas mengenai tanggung jawab sosial dan moral untuk membangun sebuah wacana pengembangan pribadi sumber daya manusia bagi guru-guru Kristen dan peningkatan kualitas pengajaran di sekolah-sekolah Kristen, maka penting sekali bagi seorang guru untuk memahami pribadi dan karya Roh Kudus dalam komunitas mereka sehari-hari. Dengan demikian guru-guru Kristen tersebut dapat mengajarkan konsep-konsep kebenaran yang sejati berlandaskan firman Allah (words of God’s)  kepada para siswanya dengan hikmat dan pimpinan Roh Kudus.
Tugas utama seorang guru dalam konteks pendidikan Kristen adalah membantu para siswa untuk belajar mengenal Allah di dalam Yesus Kristus dan melalui firman-Nya tersebut, mereka boleh bertumbuh dan menjadi serupa dengan Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan memanggil guru Kristen untuk menuntun siswa-siswanya dalam pengetahuan dan kepekaan yang kemudian memimpin mereka untuk melayani Tuhan dan sesama (Brummelen, 2004, hal. 44). Ini berarti seorang guru Kristen tidak hanya membantu murid mengetahui berbagai pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan hidup (creative living) semata, namun juga bertanggung jawab secara moral untuk mengenalkan kebenaran Allah dalam diri siswa. Kebenaran Allah inilah yang mendasari proses pendidikan dan pembelajaran di dalam maupun di luar kelas. Seorang guru Kristen yang baik adalah lebih dari sekedar menyampaikan informasi kepada siswanya, namun terus mendorong agar mereka secara dinamis bertumbuh dalam komunitas kebenaran (Palmer, 1998, p. 115). Sehingga para siswa dapat mengaplikasikan konsep kebenaran tersebut untuk melayani Tuhan dan mengasihi orang lain dalam kehidupan nyata.
            Untuk mewujudkan tujuan pengajaran dalam konteks pendidikan Kristen di atas, dibutuhkan guru-guru Kristen yang sungguh-sungguh mengenal Allah secara pribadi dalam rupa Kristus yang telah bangkit dari antara orang mati (Filipi 3:10-11), lahir baru (II Korintus 5:17, Kolose 3:5-10), memiliki prinsip bahwa segala kebenaran adalah kebenaran Allah (all truth is God’s truth), memiliki panggilan sebagai seorang guru dan menyadari bahwa panggilan tersebut merupakan karunia Roh Kudus (Efesus 4:11-12, I Korintus 12:28c, Roma 12:7b) dan senantiasa merendahkan diri serta berdoa meminta Roh Kudus memerintah hidup mereka dalam membuat keputusan sehari-hari pada saat mengajar (Brummelen, 2004, hal. 53). Sebagai pribadi yang terus diperbaharui oleh Roh Kudus, guru Kristen hendaknya mengasihi, senantiasa mendoakan, dan membawa para siswanya untuk berjumpa secara pribadi dengan Allah dalam hidup mereka sehari-hari. Karena menjalankan peran sebagai guru Kristen, maka kita harus memiliki semangat untuk terus mendoakan, bekerja, berkorban untuk para siswa dan mengusahakan pengajaran Kristen yang terbaik bagi mereka (Berkhof, 2004, hal. 59).
Dalam era globalisasi ini, di samping pengembangan pribadi secara rohani yang harus dimiliki sesuai dengan kriteria di atas, guru-guru Kristen pun dituntut memiliki etos kerja yang senantiasa dipimpin oleh Roh Kudus, sehingga mengijinkan dirinya digunakan Allah sebagai saluran kuasa, hikmat dan kasih agar mampu membedakan kebenaran dengan pengajaran-pengajaran palsu yang bersifat sekuler di jaman post modern ini. Guru-guru Kristen hendaknya menyadari bahwa dirinya adalah anggota dari tubuh Kristus di seluruh dunia, sehingga mereka senantiasa belajar dari orang lain dan bekerjasama dengan mereka dalam rangka pengembangan karakter pribadi dan peningkatan kualitas pengajarannya.
Guru-guru Kristen tidak hanya mengajarkan seluruh disiplin ilmu pengetahuan yang ada di dunia, namun hendaknya mengajarkan segala sesuatu yang bersumber dari kebenaran firman Allah yang telah diintegrasikan dengan keseluruhan ilmu pengetahuan tersebut. Pengajaran dasar yang penting ditekankan kepada siswa adalah doktrin yang benar tentang penciptaan, asal dan tujuan hidup manusia, keberdosaan manusia, tindakan Allah menyelamatkan manusia melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, serta panggilan untuk hidup beriman di dalam Yesus Kristus, sehingga mereka dapat bertumbuh dan menjadi murid Kristus yang sejati.
Pengajaran yang melandaskan pada konsep humanisme sekuler dan materialisme harus dipangkas oleh para guru Kristen, karena  hal ini bertentangan dan tidak sesuai dengan kebenaran firman Allah. Guru-guru Kristen hendaknya teliti dan meresponi secara bijak ketika mempelajari seluruh disiplin ilmu pengetahuan yang “dikemas” dengan filsafat dunia dan bertentangan dengan firman Allah. Oleh sebab itu penting sekali peranan Roh Kudus sebagai Roh Hikmat untuk membantu guru-guru Kristen membedakan antara kebenaran sejati dan kebenaran yang hanya bersifat humanisme belaka (Kolose 2:8-10). Dengan demikian, pengajaran yang disampaikan oleh guru-guru Kristen tersebut tidak akan membawa para siswanya ke dalam hal-hal yang bersifat negatif pasca pengajaran, tetapi memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan spiritual, karakter, intelegensi dan perilaku mereka, agar mampu berkompetisi secara sehat dalam menghadapi tantangan jaman di era globalisasi.



DAFTAR REFERENSI

Azra, Azyumardi. (2002). Paradigma baru pendidikan nasional: Rekonstruksi dan demokratisasi. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Brummelen, H. (2006). Berjalan dengan Tuhan di dalam  kelas  [Walking with God in the classroom-Christian approaches to learning and teaching]. Tangerang: Universitas Pelita Harapan Press. (Original work published 1992)
Berkhof, Louis. (2004). Dasar pendidikan Kristen [Foundations of Christian Education). Suarabaya: Penerbit Momentum. (Original work published 1990)
Palmer, Edwin, H. (2005). The Holy Spirit His persons and ministry. New Jersey: P&R Publishing Company.
Palmer, Parker, J. (1998). The courage to teach. United States of America: Jossey-Bass.













 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar